top of page

Artikel Bahasa 1

  • Writer: Noorhana Sesar Sari
    Noorhana Sesar Sari
  • Sep 2, 2021
  • 3 min read
Jelajah Kisah Kerajaan Kotawaringin dan Masyarakat Suku Dayak Setempat Melepas Belenggu Penjajahan di Tanah Kalimantan Tengah

Selembaran kertas usang dan perkataan orang tua terdahulu adalah salinan potret kehidupan lampau yang tersimpan rapi dalam ingatan untuk mengenang berbagai momentum yang bernilai. Sejarah hadir dalam bentuk potongan teka-teki dan cenderung memakan waktu puluhan tahun untuk bisa ditemukan benang merahnya. Tidak semua peristiwa dapat diabadikan secara baik melalui tangkapan kamera. Terkadang ia tumbuh dalam lisan masyarakat yang telah lama mendiami wilayah tersebut, tentu tanpa mengurangi nilai historis yang ada.


Para arkeolog yang turun langsung ke berbagai sisi di Kalimantan menemukan fakta kehidupan lampau yang pernah ada. Jejak artefak yang ditinggalkan atau tertinggal menjadi penanda bahwa ada kisah masa lalu yang belum terungkap. Tidak dapat dipungkiri, luasnya pulau Kalimantan dan beragam potensi kekayaan alam sangat memungkinkan hadirnya sebuah peradaban besar di dalamnya. Peradaban tersebut salah satunya adalah Kerajaan Kotawaringin.

Kerajaan Kotawaringin atau dikenal juga oleh masyarakat dengan sebutan Kerajaan Kutaringin adalah sebuah bentuk kerajaan Islam yang merupakan pecahan dari Kerajaan Banjar. Kerajaan ini terletak di daerah Kalimantan Tengah, yaitu tepatnya di Kotawaringin Barat, Pangkalan Bun. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1600-an yang didirikan oleh seorang putera dari raja Kerajaan Banjar yang bernama Pangeran Adipati Antakusuma.

Lokasi Kerajaan yang berada di daerah aliran sungai Lamandau mempermudah akses perdagangan dengan orang-orang dari daerah lain. Aktivitas perdagangan terapung adalah hal lumrah yang hingga saat ini masih bisa kita temukan di Kalimantan. Tidak hanya di sungai Lamandau, kegiatan perdagangan hampir terjadi pada setiap aliran sungai di Kalimantan. Sehingga dengan potensi jalur transportasi air ini memudahkan Kotawaringin untuk memperdagangkan hasil alam yang dimiliki. Maka pada tahun 1628 dan 1661, adanya hubungan dagang antara Kotawaringin dan VOC berupa komoditas dari hasil hutan, beras, dan lada.


Karena Kerajaan Kotawaringin saat itu berada dibawah Kerajaan Banjar, akibatnya terkena imbas dari perjanjian antara Kerajaan Banjar dan pihak Belanda. Perjanjian tersebut menjadikan Kerajaan Kotawaringin lepas dari Kerajaan Banjar dan menjadi bagian dari bawahan Belanda. Hingga pada akhirnya sebagian Kalimantan berada di bawah kekuasaan Belanda. Kalimantan yang memiliki ragam rempah dan sumber daya alam lainnya menjadikan niat licik Belanda untuk bisa menguasai tanah Kalimantan seluruhnya. Berdasarkan fakta sejarah, Belanda dengan siasat liciknya ikut campur urusan Kerajaan Banjar yang berakhir membawa seluruh masyarakat Dayak pedalaman turut serta melawan Belanda. Berbagai perlawanan yang digencarkan Kerajaan Kotawaringin berakhir sama dengan wilayah Kalimantan lainnya, yaitu jatuh ke tangan Belanda.


Walaupun demikian, perjuangan ini tetap dilanjutkan oleh masyarakat pedalaman Suku Dayak yang bersatu melawan penjajah. Masyarakat pedalamaan Suku Dayak yang sangat menyatu dengan alam memanfaatkan hal tersebut sebagai strategi penyerangan kepada penjajah. Hal ini lantas memakan banyak korban dari pihak penjajah. Kemampuan menyumpit Suku Dayak menjadi senjata mematikan, karena senjata ini diolesi dengan racun yang dapat melumpuhkan sasaran. Selain itu kebiasaan mengayau (memenggal kepala) membuat pemerintahan kolonial berupaya menghentikan perlawanan tersebut.

Pada tahun 1894, terjadilah perjanjian Tumbang Anoi. Perjanjian ini dimaksudkan agar tidak ada peperangan antar suku dan menghapus hukum rimba seperti mengayau. Namun dibalik itu semua adalah strategi Belanda yang ingin menguasai penuh tanah Kalimantan. Sejak perjanjian tersebut dijalankan, Belanda semakin semena-mena berekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Walaupun kondisi masyarakat yang tengah susah akibat praktik devide et impera ini dan dengan kondisi Kerajaan Kotawaringin yang berada di bawah kekuasaan Belanda hingga tahun 1900-an, tidak memutus harapan masyarakat Kalimantan untuk bisa melawan dan mencari kesempatan agar bisa bebas dari Belanda. Hingga pada saat kabar kemerdekaan Indonesia dikumandangkan 17 Agustus 1945, dengan tegas Pangeran Ratu Anom Alamsyah menyatakan untuk bergabung dengan Indonesia.

Peran Kerajaan dalam Kemerdekaan Negara Indonesia memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap Bangsa Indonesia. Hampir setengah abad dihabiskan masyarakat pedalaman Suku Dayak untuk melawan penjajahan. Walaupun pada akhirnya harus mengikuti peraturan Belanda dan penjajah lainnya, tetapi harapan dan cita-cita masyarakat pedalaman untuk merdeka menjadi semangat yang pada akhirnya terwujudkan dengan ketegasan Pangeran Ratu Anom Alamsyah. Sehingga, Kerajaan Kotawaringin yang mampu merangkul masyarakat pedalaman memiliki peran penting untuk bisa mempersatukan kekuatan Suku Dayak pedalaman untuk mempertahankan tanah tercinta.


Menjadi seorang raja bukanlah hal mudah, terutama dalam pengambilan keputusan. Ketika dihadapkan dengan ketidakpastian harus mengikuti arus yang mana, seorang raja harus memikirkan risiko terkecil yang bisa dikorbankan demi kemenangan besar. Ketegasan raja-raja yang ada, baik di Kalimantan maupun di daerah lainnya adalah bentuk kesadaran akan ikatan persaudaraan sepribumi. Untuk itu, Kerajaan adalah salah satu sumber kekuatan dan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia. Tanpa dukungan tersebut, tidak ada Indonesia di hari ini.



"Artikel ini sudah pernah diikutsertakan dalam lomba menulis, sehingga jika ada yang mengklaim, atau full plagiat dari artikel ini, dapat dikenakan sanksi"

Hubungi penulis untuk menanyakan sumber informasi dan dokumentasi tertera di atas

Terima Kasih



Comments


Post: Blog2_Post

©2021 by My Site. Proudly created with Wix.com

  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn
bottom of page